Watu Dukun salah satu tempat keramat di wilayah Gunung Bromo

Pagi itu tepatnya pada hari jumat legi, saya sengaja ikut rombongan tetangga yang akan melakukan acara ritual di wilayah Gunung Bromo tepatnya di Watu Dukun. Watu Dukun berada di lautan pasir tepatnya 1,5 km dari tangga Gunung Bromo. Suasana yang cerah sangat mendukung perjalanan kami menuju lokasi, dengan iring-iringan dua pick up yang membawa hasil bumi dan makanan khusus yang rencananya dimakan bersama-sama dilokasi tujuan atau disebut dengan acara ‘kauman’.

Lokasi Watu Dukun dengan latar belakang Gunung Batok

Acara ini biasa digelar setiap hari jumat legi atau sekitar 36 hari sekali, ikut dalam rombongan seorang dukun dan beberapa tokoh agama. Yang lain dari biasanya, salah satu pick up membawa pohon beringin beserta potnya, rencananya mau ditanam di lokasi sekitar Watu Dukun dan tentunya sudah mendapat ijin dari tokoh adat dan dukun setempat.

Rombongan yang baru tiba di Watu Dukun

Ritual penduduk Suku Tengger di Watu Dukun

Yang menggelar acara ini biasanya adalah penduduk Suku Tengger yang mempunyai nazar/janji bila hasil panen melimpah maka akan membawa sebagian hasil buminya untuk dijadikan persembahan, serta membawa makanan yang nantinya dibagikan pada orang-orang di lokasi ritual.

Watu Dukun tampak dari kejauhan

Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tujuan, dari lokasi kami langsung menurunkan barang-barang dan sebagian langsung menuju lokasi sembahyang untuk melakukan doa sebagai rasa syukur karena telah diberi rejeki yang melimpah, sebagian ada yang membawa sesajen yang diletakkan ditempat melakukan doa.

Tempat meletakkan sesajen disebelah Watu Dukun
Suasana ritual di Watu Dukun

Sebenarnya ada dua tempat yang dikunjungi yaitu Watu Dukun dan Watu Balang yang letaknya saling berdekatan, setelah acara doa selesai kemudian dilanjutkan dengan acara tanam pohon beringin tepatnya di depan tempat sesajen dengan disaksikan oleh seorang dukun dan penduduk yang hadir.

Tanam pohon beringin di depan Watu Dukun

Setelah semua selesai tibalah saat yang saya tunggu-tunggu, yaitu acara makan bersama (kauman). Sambil menggelar tikar/terpal untuk tempat menggelar makanan, yang unik acara makan tidak menggunakan piring tetapi menggunakan daun pisang dan sebagian menggunakan kertas bungkus makanan. Kebetulan waktu itu ada dua orang wisatawan asal lampung yang menyaksikan, kelihatannya mereka adalah fotografer karena tidak henti-hentinya mengambil gambar kami dan bertanya-tanya tentang acara yang kami gelar.

Acara makan bersama 'kauman' di Watu Dukun

Walaupun saya tidak ikut dalam bagian dari ritual sembahyang, tetapi saya cukup menikmati acara makan-makan yang bisa dibilang sangat enak, dan tidak luput juga wisatawan dari Lampung juga ikut makan bareng, hitung-hitung lumayan dapat makan gratis dan enak di Bromo.

Hari sudah agak siang dan mulai mendung, saatnya untuk pulang dari acara ritual di Watu Dukun, Saya adalah bagian dari Suku Tengger tetapi sudah cukup puas dengan mengambil foto-foto saat acara berlangsung dan makanan gratis, sedangkan yang lain sudah puas dengan acara ritual dan nazar mereka.